Sabtu, 26 Maret 2016

Pendatang

Bukan untukmu.
Tapi untuknya. 


Kakinya yang jenjang membuat langkahnya jauh lebih lebar,
Suaranya yang khas membuat kepalaku mencari sumber suara,
Wajahnya yang lembut membuat kehangatan menyambar,
Sifatnya yang lugu membuat kepastian terlihat jelas,

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya,
Ku akan selalu menantikannya. 

Selamat tinggal

Semua terjadi begitu saja. Ketika aku mencoba mengubah arah pandangku, ternyata dunia menjadi berbeda dari yang sebelumnya. Kini aku dapat melihat warna selain hitam dan putih. Bagaimanapun nantinya, kuharap kau tidak menyesalinya. 
Mungkin aku tidak lagi bergantung padamu. Aku akan mencurahkan emosiku pada dunia baruku. Tertawa lepas, menangis, dan beragam perasaan yang tidak akan mungkin kau lihat. Perasaan yang selama ini kubelenggu, sekarang melayang kemanapun aku mau. 
Sebelumnya, apa yang kutunjukkan pada duniaku adalah palsu. Sedangkan yang kutunjukkan padamu adalah nyata. Sekarang tiba saatnya posisi itu berganti.  Akan kutunjukkan padamu yang palsu, dan yang nyata akan kutunjukkan pada dunia.
Tak lagi aku wujudkan keinginanmu dan membatasi keinginanku. Kini aku akan meraih keinginanku tanpa dirimu. Selamat tinggal.

Sabtu, 30 Januari 2016

Hub. #2

Kau tau, Kasih? Apa yang dikatakan mereka itu benar. Yang mereka katakan tentang cinta tanpa kepercayaan itu bagai kapal tanpa kompas, memang benar. Kasih, bagaimana menurutmu?

Kepercayaan memang menjadi fondasi dalam sebuah hubungan. Tanpanya, apa yang dicoba dibangun tidak akan bertahan lama, benar kan, Kasih?

Kasih, mengapa kau selalu menganggap bahwa aku tidak lagi memercayaimu? Kau bilang karena aku tidak lagi memberitaukan alasan dan penyebab perubahan dari sikapku.

Kau salah, Kasih. Bukan aku tidak memercayaimu. Ini semua karena aku merasa jika aku memberitaukan alasan dan penyebabnya, itu tidak akan mengubah apapun. Itu yang selama ini aku rasakan, Kasih.

Memang benar tidak ada ruginya. Tapi seperti yang kau tau, Kasihku, aku merasa percuma membahasnya. Seperti yang kau lakukan ketika kau salah paham, aku berusaha meluruskan pandanganmu, tapi kau bilang tidak perlu dibahas lagi. Sungguh, itu tidak enak. 

Sama seperti itu, Kasih. Kau merasa tidak enak jika tidak mengetahuinya. Tapi memang, aku tidak ingin membahasnya. Aku lelah, Kasih. Kata maaf mampu mneguranginya, tapi tak mampu melupakannya. 

Tetapi, sesungguhnya siapa yang tidak memiliki kepercayaan itu, Kasih? Aku atau dirimu? Aku sudah berusaha untuk menghilangkan kesedihan, tapi kau memulainya lagi dengan berbagai prasangka yang sungguh jauh dari yang bisa kubayangkan.

Aku kali ini tidak mampu meluapkan emosiku dengan amarah, aku hanya bisa menangis, Kasih. Sudah jadi dini hari ke tiga, aku menangis dalam diam. Semuanya begitu sesak, Kasih. Mungkin kau merasakan hal yang sama. 

Dan yang seperti sudah kita lihat, walaupun kecurigaan itu sudah terbuktikan salah, namun kepercayaan itu memang tidak ada, keresahan akan terus ada, ya kan, Kasih?

Tolong jangan salahkan aku, Kasih. 

Sabtu, 23 Januari 2016

Gadis

Cerita ini bermula ketika air dari langit turun dengan derasnya di tengah malam yang sunyi. Suaranya yang memecahkan keheningan membuat gadis ini terbangun. Suara hujan malam ini terdengar sangat jelas di telinganya, membuat gadis tersadar sesuatu. Gadis langsung meraba kasurnya untuk mencari sebuah alat yang selama ini di sampingnya, handphone. Tangannya meraih handphone itu, kemudian gadis mengecek jam dan tanggal saat itu. Ternyata benar dugaannya, ia terbangun di hari penting. 

Beberapa jam kemudian, gadis masih terlelap dari tidurnya yang sudah terganggu oleh hujan. Tiba-tiba alarm di handphone berdering. Menunjukkan pukul tujuh pagi. Mata gadis berat untuk dibuka. Kepalanya juga berat untuk diangkat. Kemudian cerita ini bersambung.